SMART Market

Inspiring for Smart Investing

Kinerja IHSG Januari 2010

Perdana Wahyu Santosa

IHSG/JCI mencatatkan kinerja yang sangat baik dan prospek yang cerah. Setelah sempat terupuruk dalam pada 2008 lalu dan mengalami pemulihan yang cepat pada 2009. Memasuki 2010, IHSG mencatatkan hasil positif 3% yang merupakan kinerja excellent sekaligus abnormal di kawasan Asia. Indeks pasar modal lainnya seperti China, Taiwan, India dan Korea mencatatkan kinerja return (imbal hasil) negatif -8,8%, -6,7%, -6,3% dan -4,8. Sementara indeks pasar Asean seperti Phillippines, Singapore, serta Malaysia juga mencatatkan kinerja buruk. Rendahnya kinerja indeks regional Asia dipicu oleh:

  • Bubble warn perekonomian China yang sudah mulai “overheating
  • Pemulihan (recovery) ekonomi AS masih rapuh

Pergerakan IHSG/JCI periode 2006-Jan 2010, menunjukkan fluktuasi yang sangat tinggi pada periode 2007-2009. IHSG mengalami volatilitas hingga 58,6% pada periode tersebut. Memasuki 2010 ini, diprediksi volatilitas IHSG berada pada kisaran yang lebih sempit sekitar 10-15%. Hal ini menunjukkan bahwa potensi kenaikan IHSG jauh di bawah kinerja 2009.

Secara umum, IHSG/JCI diprediksi akan terus menujukkan tren positif (up-trend) pada 2010 ini dengan pertimbangan estimasi kenaikan PDB sekitar 5,6% disertai kenaikan BI rate menjadi 7,0-7,5%. BEI diprakirakan akan memiliki momentum up trend yang kuat karena dukungan indikator ekonomi yang sangat menjanjikan pada 2010. Melalui berbagai analisis, diprediksi IHSG akan menembus level 3000, selama semua asumsi yang dipakai tidak meleset karena event tak terduga terutama masalah geopolik seperti: Iran dan Korea Utara. Masalah potensial lainnya adalah bubble warn perekonomian China serta pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.

February 3, 2010 Posted by Perdana Wahyu Santosa | 1 | | No Comments Yet

Pemulihan Ekonomi Global Masih Rapuh

Perdana Wahyu Santosa

World Bank merilis Global Economic Prospect:  Crisis, Finance and Growth 2010, Jumat 22 Januari  2009. Dalam laporan analisis dan riset tentang situasi  krisis finansial, keuangan dan pertumbuhan ekonomi  global 2010 tersebut dapat disarikan bahwa volume  perdagangan dunia diprediksi meningkat tajam namun  pemulihan ekonomi tetap lambat. Kondisi ekonomi 2010  tersebut dinilai masih rapuh dan diselimuti ketidakpastian sehingga tergolong masih rapuh (fragile). Namun, secara umum pertumbuhan ekonomi global dapat memberikan rasa optimisme terhadap ekspektasi pemilihan yang telah meemukan titik terangnya.

Beberapa hal penting dari laporan analisis tersebut adalah:

  • PDB global yang jatuh hingga 2,2% pada 2009, diekspektasi dapat kembali tumbuh pada tingkat 2,7% pada 2010 dan 3,2% pada 2011.
  • Prospek ekonomi negara-negara berkembang (developing countries) mendapatkan predikat relatively robust recovery, dengan ekspektasi tingkat pertumbuhan PDB sebesar 5,2% pada tahun ini dan 5,8 pada 2011 atau meningkat sekitar 1,2% dibandingkan 2009
  • Pertumbuhan PDB negara-negara maju (rich countries) yang sebelumnya mengalami penurunan sebesar 3,3% pada 2009 diharapkan mampu meningkat setidaknya sebesar 1,8% dan 2,3% untuk 2010 dan 2011.
  • Volume perdagangan dunia yang mengalami penurunan tajam sebesar 14,4% pada 2009 diproyeksikan dapat kembali meningkat 4,3% pada 2010 dan 6,2% pada 2011.

World Bank juga mengutarakan hasil analisis prospek tersebut berdasarkan skenario dasar dengan mempertimbangkan faktor-faktor ketidakpastian yang relatif tinggi. “Depending on consumer and business confidence in the next few quarters and the timing of fiscal and monetary stimulus withdrawal, growth in 2011 could be as low as 2.5 percent and as high as 3.4 percent.” Further, over the next 5 to 10 years, increased risk aversion, a more prudent regulatory stance, and the need to curb some of the riskier lending practices during the boom period that preceded the crisis can be expected to result in scarcer, more expensive capital for developing countries.

Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang relatif masih lemah, pergerakan harga minyak mentah dunia diharapkan stabil pada kisaran rata-rata $76 per barrel serta harga-harga komoditas penting lainnya hanya mengalami kenaikan harga rata-rata sepanjang 2010 dan 2011 sebesar 3% pertahun. Peningkatan harga komoditas yang lebih tinggi diprediksi  menghambat pertumbuhan ekonomi dunia yang baru pulih.

Source: http://www.researchrecap.com

January 22, 2010 Posted by Perdana Wahyu Santosa | Economic Trends, Investment Guide | | No Comments Yet

Mengenal Indeks Harga Saham dan Jakarta Islamic Index

oleh  Perdana Wahyu Santosa

Pasar modal mempunyai indikator indeks harga saham yang menjadi pintu gerbang sekaligus barometer utama untuk para investor dalam mengambil keputusan stratejiknya. Perhitungan terhadap indeks harga saham dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode. Cara yang umum dilakukan melalui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merupakan indeks komposit seluruh saham yang listing di BEI. Perhitungan IHSG dilakukan tanpa pembobotan (weighted) dengan asumsi peran setiap saham dinilai sama pengaruhnya terhadap pergerakan harga pasar. Oleh karena itu semua jenis indeks harga saham lainnya merupakan turunan sekaligus anggota IHSG. Pada umumnya pembentukan indeks saham menggunakan metode Laspeyres.

Indeks lainnya yang sangat berpengaruh adalah LQ-45 karena beranggotakan saham-saham unggulan yang sangat aktif (most active). LQ-45 menjadi acuan banyak perusahaan manajemen investasi terkemuka dalam membentuk portofolio dan basis reksadana (mutual fund) termasuk investor individual. Selain itu, LQ-45 juga paling sering dijadikan acuan pemilihan saham dalam berbagai penelitian keuangan dan investasi. Selanjtnya indeks lainnya adalah Kompas-100 yang diterbitkan para analis harian Kompas. Indeks ini juga sangat andal dengan anggota sekitar 100 saham unggulan dan kerap dijadikan acuan reksadana saham. Dengan anggota saham yang lebih banyak, Kompas 100 lebih elastis mengikuti pergerakan IHSG. Indeks saham terbaru adalah Bisnis-27 yang dirilis harian Bisnis Indonesia pada awal 2009. Indeks Bisnis dengan 27 saham index mover berbagai sektor andalan BEI memberikan pilihan yang lebih spesifik lagi. Kelemahan indeks Bisnis-27 ini pergerakannya rentan karena jumlah anggota saham yang relatif kecil. Namun sejauh ini, berdasarkan pengamatan selama 6 bulan pertama sejak dirilis, indeks bisnis ini cukup andal.

Indeks-indeks tersebut di atas tersebut cukup akurat dan reponsif terhadap pergerakan pasar IHSG. Karakter indeks harga saham seperti ini termasuk ke dalam Indeks sampel karena anggota indeks diambil melalui metode sampling tertentu agar mampu merepresentasikan seluruh harga saham sebagai populasinya. Selain itu, terdapat pula indeks saham yang mencerminkan pergerakan harga-harga saham sesuai dengan sektor masing-masing seperti sektor agriculture, mining, finance dan lain sebagainya. Tentu, indeks sektoral bukan dibentuk melalui teknik sampling tertentu karena saham-saham yang digunakan sesuai dengan emiten pada sektor yang dijadikan indeks. Dengan demikian, ragam jenis indeks saham memungkinkan para analis dan investor untuk melakukan penilaian yang lebih objektif terhadap studi komparasi antar indeks saham.

Jakarta Islamic Index

Di samping itu, terdapat indeks harga saham yang lebih spesifik berdasar ajaran islami yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dengan anggota 30 saham pilihan. Ke -30 saham anggota JII tersebut dinilai memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Intinya saham-saham yang masuk ke dalam JII-30 harus memenuhi unsur yang sama dengan indeks lainnya kecuali unsur haram dalam pandangan MUI. Unsur haram yang disyaratkan DSN MUI pada umumnya terkait dengan kegiatan bisnis  Alkohol, Perjudian, Produksi dengan bahan baku babi, Pornografi, Jasa Keuangan dan Asuransi konvensional.

Ke enam fatwa-fatwa DSN MUI tahun 2004 tersebut mengatur prinsip-prinsip syariah di bidang pasar modal yang menyatakan bahwa suatu sekuritas/efek di pasar modal dipandang telah memenuhi prinsip-prinsip syariah apabila telah memperoleh pernyataan kesesuaian syariah secara tertulis dari DSN-MUI.

Jadi secara khusus, saham-saham yang masuk kriteria JII adalah saham-saham yang operasionalnya tidak mengandung unsur ribawi dan struktur permodalan perusahaan bukan mayoritas dari hutang. Maka saham-saham JII ini pada umumnya mempunyai struktur modal yang sehat dan tidak terbebani bunga hutang berlebihan, dengan kata lain debt-to equity rasionya masih proporsional. Rasio DER yang lebih wajar berpotensi meningkatkan keuntungan emiten dan terhindar dari beban keuangan jangka panjang.

Namun secara prinsip, leveraging merupakan suatu hal yang dianjurkan agar EBIT dan EPS perusahaan terus meningkat. Oleh sebab itu, imbal hasil (return) emiten syariah cukup menjanjikan pada investasi jangka menengah-panjang. Pengelolaannya (manajemen) juga dinilai transparan dan kredibel serta menghormati hak-hak pemegang sahamnya. Saham-saham anggota JII sebagian besar juga anggota indeks lainnya hanya ada sedikit kriteria syariah tersebut. Indeks JII seperti indeks modern lainnya, bersifat dinamis dalam arti secara periodik di update agar senantiasa responsif dengan pergerakan pasar dan sesuai dengan syariah.

Maka sejak keberadaannya 1995, serta melalui berbagai penyempurnaan tahun 2000 dan 2003, saham-saham JII menunjukkan kinerja yang baik dan mampu bersaing dengan saham-saham dari anggota indeks lainnya. Selain itu, saham-saham JII sebagian besar merupakan saham blue chips biasa.

Demikian dan semoga bermanfaat. Salam Investasi

January 18, 2010 Posted by Perdana Wahyu Santosa | 1, Beginners, Capital Market Education | , , , , | No Comments Yet

Review dan Prospek Pasar Modal 2010

Perdana Wahyu Santosa


Review 2009: Flying High Again

Awal tahun 2009 lalu pasar modal BEI didera    penurunan luar biasa tajam akibat kecemasan  mendalam akan kehancuran ekonomi global yang  berawal dari krisis subprime mortgage di AS dan sebagian Eropa. Krisis instrumen derivatif berlandaskan aset KPR berkualitas rendah tersebut menjalar begitu cepat sekaligus sangat dahsyat. Hampir semua pasar modal baik emerging market ataupun pasar yang sudah efisien mengalami kejatuhan luar biasa. Tingkat kejatuhan pasar modal global mencapai kisaran 60-80%. Krisis tersebut menghapus sebagian besar kekayaan para investor kakap yang telah berinvestasi selama satu dekade. Dari rakyat biasa hingga para analis keuangan, ekonom sampai dengan petinggi negara membicarakan krisis ekonomi disertai bumbu politik, anti-kapitalisme, neo-liberalisme, dan berbagai penyedap lainnya sesuai dengan motif masing-masing kelompok. Perekonomian dan pasar finansial berada pada kondisi yang rentan dan penuh ketidak-pastian tanpa gairah pada saat itu, plus kerawanan isu sosial politi jelang pemilu pada paruh pertama 2009.

Namun orang bijak menatap dengan cara lain, katanya setiap krisis akan menciptakan berbagai peluang bisnis dan investasi. Ketika pasar modal BEI terjungkal hebat hingga level 1.100 an per Januari 2009, dunia seolah terbalik dimana investor kaya menjadi “miskin” dan terbuka peluang besar bagi para investor baru “newbie” untuk menjadi kaya. Investor baru dapat masuk pada saat harga-harga saham terdiskon sangat rendah akibat krisis ekonomi dan panic selling yang berlebihan. Ini jelas peluang langka. Untuk mendapatkan peluang investasi sebaik ini mungkin harus menunggu selama kurun 10 tahun lagi. Situasi saat itu dapat disebut maximum investment opportunity. Namun, peluang berharga tersebut kurang dimanfaatkan akibat rasa takut dan dampak psikologis yang dalam akibat kejatuhan pasar finansial dunia.

Hal tersebut dapat dimaklumi, Lehman Brothers, AIG, Citigroup, JP Morgan dan sederet manajer investasi kelas dunia saja terkapar tak berdaya dihantam badai subprime mortgage tersebut. Namun kita harus memahami, bahwa fenomena tersebut hanyalah sebuah siklus yang terus berputar dari masa ke masa. Setelah mengalami krisis, kembali pasar finansial mengalami booming, kemudian kembali didera krisis dan seterusnya.

Pertumbuhan indeks pasar BEI yang cukup baik dimulai 2006,hingga 2007 dan paruh pertama 2008. Setelah naik 55,3% pada tahun 2006, dan naik lagi 52,1% pada tahun 2007, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun 50,7% selama tahun 2008. Memasuki kuartal III 2008, pasar finansial global mulai limbung dan hancur pada kuartal terakhir 2008. Sampai paruh pertama 2008, BEI mencetak rekor dalam sejarah hingga level 2830. Kejatuhan BEI disebabkan karena keluarnya hot money besar-besaran terutama pada kuartal terkahir 2008 akibat kecemasan dampak krisis global.  Selanjutnya pada paruh pertama 2009 indikator ekonomi makro Indonesia yang cukup kuat dari terpaan krisis global dengan PDB sekitar 4,3% tersebut membuat pasar kembali memasuki wilayah optimis sekalipun senantiasa dibayangi berbagai kecemasan akan pemulihan ekonomi global yang belum jelas.

Akhirnya jelang kuartal kedua 2009, IHSG kembali menujukkan kekuataannya dan berhasil up trend luar biasa hingga 50,1% pada akhir semster 2 tahun 2009. Serta merta peguatan IHSG diikuti oleh menguatnya nilai tukar IDR terhadap USD menjadi sekitar Rp. 10.200/USD pada akhir Juni 2009 setelah sempat terpuruk hingga Rp. 12.000/USD pada Desember 2008. Pemulihan tersebut juga didorong oleh penurunan tingkat suku bunga BI (BI rate) dari 9,5% hingga 6,5% saja secara periodik. Penguatan IHSG terus berlanjut pada kuartal 3, bahkan berhasil menembus level psikologis 2000 dengan mulus disertai penguatan IDR/USD pada kisaran Rp. 9500-10.000/USD.

Memasuki kuartal terkhir 2009, para investor semakin percaya diri bahkan cenderung over confidence terhadap prospek investasinya. Hal tersebut, membuat IHSG kembali terbang tinggi menembus level wajarnya di 2250. Bahkan pada November dan Desember 2009, IHSG berkali-kali menembus level keramat 2500. Namun, para investor nampaknya belum berani melangkah terlalu jauh sehingga pada kuartal terkhir 2009 IHSG berfluktuasi pada kisaran 2400-2500 an. Bayangkan, pada 31 Desember 2009, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bertengger di atas evel 2.500 atau tumbuh sekitar 85,86%. Ini berarti IHSG sudah kembali normal hanya dalam satu tahun saja. Namun hal yang mencemaskan adalah kenaikan harga crude oil dunia yang mencapai level USD 78,76/barrel. Kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut lebih disebabkan aktivitas spekulasi dari pada proses supply-demand.

Prospek 2010: Flying Over High atau Profit Taking?

Apakah suasana keceriaan di BEI pada akhir 2009 ini akan berlanjut pada 2010 nanti? Apakah IHSG akan terus terbang lebih tinggi lagi di 2010? Tentu saja itu harapan kita semua. Ada baiknya jika kita mengacu kepada prospek indikator ekonomi makro Indonesia dan global pada umumnya. Sekalipun, secara psikologis, IHSG akan terus mencoba menembus level tertingginya di 2830 pada awal kuartal pertama 2010 nanti. Tendensi “pemecahan rekor tertinggi” ini tampaknya cukup kuat dan beralasan.

Jika kita mengacu pada prospek perekonomian nasional di 2010, yaitu angka pertumbuhan ekonomi 2010 oleh beberapa ekonom dan lembaga riset terpandang dipatok sekitar 5-6%. Bahkan ada yang memprediksi di atas 6%. Hal ini tentunya merupakan alasan kuat bagi para investor untuk kembali menanamkan dananya di BEI selama 2010. Secara umum, jika perekonomian dapat tumbuh 1%, maka dibutuhkan dana investasi sekitar 4,5% dari APBN. Maka untuk tumbuh sekitar 5,5% dapat dihitung secara kasar jumlah dana investasi yang diperlukan untuk mencapainya. Tentu saja pemerintah harus berupaya maksimal dan fokus untuk menciptakan situasi kondusif bagi para investor asing dan swasta nasional agar dana investasinya dapat bertahan lebih lama di Indonesia. Sedangkan untuk menarik dana besar dari investor asing, tentunya peranan pasar modal sangat penting.

Di samping itu, masuknya dana asing akan membuat rupiah semakin kuat dan stabil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi 2010. Jumlah modal yang dibutuhkan para emiten juga semakin besar untuk dapat menangkap peluang bisnis di 2010 tersebut sehingga pasar modal akan diwarnai berbagai aksi korporasi untuk menjaring dana segar dari masyarakat. Di samping itu, jumlah emiten baru yang prospektif ditargetkan otoritas BEI sekitar 25 emiten. Ini berarti dalam setiap bulan akan ada initial public offering (IPO) sebanyak 2 emiten. Situasi tersebut merupakan peluang tambahan yang dapat dimanfaatkan para investor di 2010.

Indikator ekonomi makro seperti inflasi dinilai akan stabil pada kisaran 6,5-7% sedangkan BI rate akan dipatok untuk menjaga situasi ekonomi yang kondusif pada kisaran 7-7,5%. Kedua indikator penting tersebut memberikan harapan yang sangat bagus bagi investor dan pelaku ekonomi riil. Nilai tukar IDR/USD diestimasi berada pada level Rp. 9200-9600/USD.

Beberapa lembaga keuangan dunia juga memberikan target IHSG yang menjanjikan. Pada umumnya mereka mentargetkan IHSG di atas 3000 an dengan berbagai asumsi dan metode analisisnya. Melihat situasi tersebut, tampaknya IHSG akan flying over high dan memberikan imbal hasil yang baik bagi pelaku pasar.

How high can you go, IHSG?

Adalah pertanyaan mendasar di 2010, betapa tidak, jika IHSG terlalu tinggi (overvalued) maka konsekuensinya akan rawan anjlok sesaat akibat aksi ambil untung (profit taking) dan mengakibatkan capital outflow dana panas yang dimiliki asing. Hal tersebut wajar terjadi karena kenaikan IHSG selama 2009 sudah melebihi 85% ditambah potensi kenaikan selama 2010. Sikap overconfidence dari para investor diprediksi akan mewarnai transaksi saham di BEI terutama pada saham blue chips. Namun secara umum, indikator price earning ratio (PER) IHSG masih berada pada tahap aman.

PER IHSG masih tergolong murah dibandingkan dengan PER beberapa negara seperti China dan India. Apabila dibandingkan dengan PER rerata historis IHSG, yaitu sekitar 35x sehingga  tingkat IHSG saat ini masih undervalued. Temuan ini juga merupakan peluang investasi yang cukup baik di 2010. Bersikaplah cerdas dan bijak di tahun macan yang penuh keberanian ini namun takutlah saat mayoritas investor menjadi tamak.

Salam SMART Market…

January 17, 2010 Posted by Perdana Wahyu Santosa | Economic Trends, Investment Guide, Investment Tips, Market Outlook & Trends | , , | No Comments Yet

Mengidentifikasi Tawaran Investasi Fiktif

Investasi berpotensi besar meningkat kesejahteraan dan  kualitas hidup dan kehidupan keluarga kita semua. Namun,  sampai dengan saat ini masih saja ada orang atau kelompok  tertentu yang tertipu dalam jumlah yang sangat besar karena  berinvestasi. Setelah diselidiki ternyata investasi yang  dilakukan hanyalah investasi fiktif yang berkedok perusahaan  profesional dengan berbagai promosi atau iklan yang sangat  menjanjikan. Pada umumnya perusahaan investasi fiktif tersebut menjanjikan keuntungan yang sangat tinggi (bahkan tidak masuk akal) dan dibayarkan melalui term jangka pendek seperti bulana atau kuartalan saja secara periodik. Nah atas dasar pengalaman inilah maka anda sebaiknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap tawaran investasi fiktif tsb.

Agar kita tidak menjadi korban investasi fiktif atau bodong tersebut maka sebaiknya kita memiliki beberapa ciri-ciri atau karakter dari investasi jenis tersebut. Pemahaman yang baik terhadap dunia investasi tentunya akan membantu anda lebih cepat sekaligus tepat dalam memahami ciri-ciri produk investasi keuangan. Produk-priduk investasi  fiktif tidak pernah surut bahkan semakin banyak jenisnya dengan kualitas penipuan yang semakin canggih pula.

Beberapa Kasus Investasi Fiktif

Skandal terbaru adalah skandal Bank Century yang menjual reksadana fiktif yang laris manis karena menjanjikan imbal hasil yang tinggi. Para nasabah yakin karena yang menjual reksadana, Antaboga,  tampak sangat bonafid dan profesional. Selanjutnya kasus investasi fiktif tersebut bergulir menjadi skandal ekonomi-politik dengan dana bail out sebesar Rp. 6,3 triliun.  Selain itu, kasus investasi fiktif lainnya seperti PT Wahana Bersama Globalindo (WBG). Sekitar 10.000 nasabah WBG harus gigit jari perusahaan investasi ini kolaps. Akibatnya, ratusan juta dolar dana investasi mereka mereka pun raib tak berbekas. Para petinggi WBG juga sudah kabur. Selain kasus ini, tentu Anda ingat kasus POMAS, Qurnia Subur Alam Raya (QSAR), Sarana Perdana Indoglobal (SPI), dan masih banyak lagi (Kontan, 2009).

Bahkan di AS yang terkenal canggihpun sistem investasinya ikut kebobolan lewat produk investasi yang ditawarkan Bernard Madoff mantan petinggi SEC di Wall Street. Madoff menjaring para korbannya melalui skema ponzi alisa gali lubang tutup lubang yang rumit dan canggih. Terakhir, pada akhir 2009 aksi penipuan Ustadz Lihan dengan metode yang sama dibalut iming-iming keuangan syariah yang mencapai Rp.800 milyar.

Dengan demikian, agar anda tidak tertipu oleh beragam jenis investasi fiktif tersebut maka tentu kita harus mampu mengidentifikasi produk investasi bodong tersebut dengan tepat dan cepat. Yang harus anda cermati adalah:

Pertama, imbal hasil yang sangat tinggi.

Produk investasi fiktif pada umumnya selalu ditawarkan melalui konsep atau skema imbal hasil (return) tinggi yang tidak rasional menurut kaidah keuangan dan investasi. Misalkan menawarkan keuntungan dalam UD$ sebesar 25-30% pertahun atau 4 kali keuntungan wajarnya seperti yang dilakukan PT WBG atau Qsar menjanjikan investasi agribisnisnya memberikan imbal hasil 7-10% per bulan secara tetap atau 120% pertahun. Begitu pula aksi Ustadz Lihan yang menipu ribuan nasabahnya dengan cara yang hampir sama.  Nah, imbal hasil atau potensi keuntungan yang tinggi tersebut adalah umpan yang efektif dalam menjaring korbannya. Berpikirlah lebih rasional agar kita selamat dari jeratan investasi fiktif baik konvensional maupun berkedok syariah.

Kedua, berkedok Perusahaan Berjangka resmi.

Jenis ini menawarkan produk investasi melalui instrumen berjangka (future) luar negeri dengan keuntungan yang luar biasa, maka disarankan anda lebih berhati-hati. Saat ini banyak perusahaan investasi bodong berkedok perusahaan berjangka yang memiliki legalitas aspal belaka. Misalnya, jika ada perusahaan investasi menawarkan instrumen investasi melalui kontrak berjangka luar negeri – baik valas maupun indeks bursa asing – maka perusahaan tsb harus memiliki izin dari Badan Pengawas Perdagangan Bursa Komoditi (Bappebti). Selain itu, perusahaan itu juga harus memiliki izin dan menjadi anggota bursa berjangka yang ada di Indonesia, yakni: Bursa Berjangka Jakarta (BBJ).

Karenanya, jika ada perusahan menawarkan investasi di bursa berjangka, Anda harus meminta bukti izin mereka dari Bappebti maupun BBJ. Kalau perusahaan itu tidak bisa menunjukkan izin-izin tersebut, atau hanya bisa menunjukkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) belaka – seperti PT. Wahana Bersama Globalindo (WBG) — kemungkinan besar perusahaan itu ilegal. Dalam kasus yang lain, dapat saja perusahaan fiktif mampu menunjukkan semua izin-izinnya. Namun sebaiknya anda melakukan pengecekan langsung ke Bappepti maupun BBJ.

Ketiga, berkedok Agen Penjual Reksadana.

Di samping produk berjangka, produk pasar modal seperti reksadana juga berpotensi untuk disalahgunakan oleh pelaku penipuan dengan berkedok manajer investasi (MI) legal. Produk reksadana mempunyai aturan sendiri. Menurut Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), orang yang menjual produk reksadana harus mengantongi izin Wakil Agen Penjual Reksadana (WAPER) dari Bapepam-LK. Karenanya, jika ada sales reksadana yang menawari Anda produk reksadana, apalagi dengan imbal hasil tinggi maka sebaiknya cek kembali apakah dia memiliki izin itu. Jika tidak, jangan mau membeli reksadana dari dia.

Keempat, berkedok Manajer Investasi (MI).

Sebagai pengelola reksadana, Manajer Investasi harus memiliki izin  resmi dari Bapepam-LK. Aturannya, MI juga tak boleh menerima dan menampung sendiri dana investornya. Dana dari investor tersebut harus disimpan di bank kustodian yang ditunjuk. Karena itu, ketika anda membeli produk reksadana, maka dana ditransfer ke rekening bank kustodian, bukan rekening MI. Maka apabila ada agen penjual reksadana itu meminta Anda untuk mentrasfer dana Anda ke rekening MI, atau bahkan rekening lainnya maka itu jelas-jelas menyalahi aturan.

October 9, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | Investment Guide, Investment Tips | , , , , , , | No Comments Yet

Global Junk Default Rate Hits 12%, Nears Expected Peak


The trailing 12-month global speculative-grade default rate finished at 12.0% in the third quarter of 2009, up from a level of 10.6% in the previous quarter and only 2.8% a year ago.

The U.S. speculative-grade default rate ended the third quarter at 12.9%, up from 11.5% in the second quarter, while in Europe the default rate rose to 9.3% from 6.4%. At this time last year, the U.S. and European default rates stood at 3.2% and 0.7%, respectively.

In all, a total of 50 Moody’s-rated corporate debt issuers defaulted in the third quarter, down from 89 in the first quarter and 83 in the second quarter. Last year, only 62 defaults were recorded in the first three quarters of the year.

For U.S. speculative-grade issuers, Moody’s forecasting model predicts that the default rate will peak at 13.5% in the fourth quarter before declining sharply to 4.4% by the third quarter of 2010.

Overall, the Automotive industry was the worst performer in the third quarter as seven companies in that sector defaulted. The Advertising/Publishing/Printing Media industry followed closely behind with six defaults. Across regions, 39 of the Q3 defaulters were based in North America while eight were from Europe. The remaining defaulters were domiciled in South America and Asia.

“Across industries over the coming year, Moody’s default rate forecasting model indicates that the Consumer Transportation sector will be the most troubled in the U.S. and the Durable Consumer Goods sector will have the highest default rate in Europe.”

Moody’s speculative-grade corporate distress index — which measures the percentage of rated issuers that have debt trading at distressed levels — stood at 28.1% at the end of the third quarter, down from 36.3% in the previous quarter. A year ago, the index stood at 26.8%.

Technorati Tags: 

October 9, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | 1 | | No Comments Yet

Data Manufaktur dan Tenaga Kerja Memburuk, Wall Street Kian Terpuruk

(Vibiznews – Index) – Wall Street pada perdagangan hari ini (03/10) kembali berakhir melemah, dipicu oleh sentimen negatif dari sejumlah indikator ekonomi termasuk factory orders dan data tenaga kerja. Dow Jones melemah 21.61 poin, atau 0.23% ke level 9,487.67; S&P 500 merosot 4.64 poin atau 0.45% ke level 1,025.21; dan Nasdaq turun 9.37 poin atau 0.46%, ke level 2,048.11. Pekan ini, artinya Dow Jones merosot 1.8%, S&P 500 melemah 1.8%, dan Nasdaq anjlok 2%.

Sentimen negatif pertama kali datang dari data manufaktur yakni factory orders yang di luar dugaan melemah 0.8% pada bulan Agustus, setelah kemarin ISM manufaktur juga merosot. Sementara itu, sentimen negatif utama datang dari laporan bahwa perekonomian pada bulan September telah kehilangan 263,000 tenaga kerja, dan tingkat pengangguran melejit menjadi 9.8%. GE menjadi top loser pada Dow Jones, anjlok 3.82% ke level $15.36 setelah dilaporkan sedang bernegosiasi dengan Comcast yang akan membeli unit NBC Universal milik GE. Comcast juga melemah 2.7% ke level $15.24. Saham industrial lainnya juga melemah tajam, seperti Boeing turun 1.36% ke level $51.40 dan Caterpillar merosot 1.25% ke level $48.83. Sementara itu, saham CIT Group melejit hingga 10.4% ke level $1.17 menyusul berita bahwa merka akan meluncurkan rencana pertukaran utang demi menghindar dari kebangkrutan.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan bursa AS dalam waktu dekat masih berpotensi untuk melemah, seiring dengan indikator ekonomi yang belum stabil , sehingga mengakibatkan investor untuk ragu terhadap pemulihan perekonomian. Rinella Putri/RP/vbn

October 3, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | Market Analysis, News & Information, Stock Market | | No Comments Yet

MEMAHAMI VALUE INVESTING

By Perdana Wahyu Santosa

Salah satu metode investasi yang populer sekaligus powerful dalam memberikan imbal hasil (return) yang tinggi dalam sejarah investasi dunia adalah Value Investing. Konsep investasi ini digagas Prof. Benjamin Graham. Salah satu value investor kaliber dunia adalah Warren Buffet yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia saat ini. Tentu saja para investor yang ingin menggunakan strategi ini harus memahami teknik evaluasi terhadap nilai-nilai saham sesuai dengan karakter pasar modalnya. Pemahaman terhadap aspek fundamental menjadi kunci keberhasilan value investing ini.

Namun ada baiknya kita memahami dahulu definisi dari value investing tersebut:

Value investing is finding a stock that is selling at a discount to its intrinsic value or companies that the market has undervalued for some reason unrelated to its economic fundamentals.

Dari definisi di atas, kata kuncinya adalah: discount to intrinsic value dan undervalued. Lalu apakah intrinsic value yang dimaksud? Bagaimana menjadi undervalued?. Intrinsic value adalah nilai wajar dan pantas dari saham yang diperdagangkan sedangkan undervalued merupakan kondisi harga yang berada di bawah intrinsic value-nya. Perbedaan antara intrinsic value dan nilai undervalued saham tersebut disebut discount namun dengan catatan nilai undervalued saham tersebut bukan karena masalah fundamental. Masalah utama strategi ini adalah kemampuan analisis kita dalam menentukan intrinsic value pada suatu saham sehingga kita mengetahui undervalued atau overvalued dibandingkan dengan harganya.

Margin of Safety

Merupakan ruang antara intrinsic value dengan nilai undervalued-nya yang menciptakan “safety” setara dengan discount-nya tersebut. Keuntungan yang kita peroleh didapat ketika harga terkoreksi kembali menuju nilai wajarnya yaitu sebesar margin of safety-nya. Hal ini menjadi sangat penting karena kesuksesan investing value terletak pada ketepatan memilih saham pada harga yang tepat pula. Tentunya kemampuan analisis dan riset fundamental dan disiplin menjadi penting. If you could not buy the stock at that price, you would pass.

Rasio Finansial

Beberapa rasio finansial yang penting diperhatikan dalam strtaegi ini adalah:

• price to book ratios

• price to sales ratios

• price to earnings ratios

• price to cash flow ratios

Para value investor di BEI dapat melakukan benchmarking rasio-rasio tersebut dengan indeks yang diyakininya. Secara umum dapat digunakan IHSG, namun untuk tujuan yang lebih akurat dapat membandingkannya dengan LQ-45 atau BI-27 dimana saham yang akan dibeli masuk dalam komposisi indeks tersebut. Bahkan untuk lebih spesifik lagi dapat dibandingkan dengan sektor atau industrinya. Namun, value investing tidak semata-mata mencari saham undervalued yang terlalu murah karena masalah fundamental atau moral hazard manajemennya. Emiten jenis ini hanya akan menciptkan kesulitan dan kerugian bagi strategi value investing.

One of the ways you can make sure the company is on solid footing is to look at its financial ratios and its link of them.

Faktor lain yang sangat penting adalah debt ratio yang relatif rendah dan cash flow yang baik, tentunya. Pereusahaan yang mampu mengelola hutang dan cash flow-nya dengan baik dan wajar akan memberikan market value added yang tinggi di masa depan. Nilai debt ratio yang terlalu tinggi (>200%) akan membuat beban finansial jangka panjang, apalagi menggunakan fasilitas repo dan derivatif secara masif.

Successful value investing depends on identifying a stock that is trading under the intrinsic value of the company and buying with a margin of safety in case you have misjudged the intrinsic value (Little, 2008).

Pada umumnya hanya investor bijak yang dapat mengalahkan pasar. Salam investasi.

April 16, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | All Stock Market Strategies, Beginners, Value Investing | | No Comments Yet

There are four ways in which you can spend money

There are four ways in which you can spend money:

You can spend your own money on yourself. When you do that, you try to get the most value for your money.
You can spend your own money on someone else. For example, purchasing a gift, you may not be so careful about the contents, but you’re very careful about the cost.

You can spend other people’s money on yourself. Which means you’ll probably be having a great lunch.

Finally you can spend other people’s money on other people. When this happens you’re never concerned about cost or value. And that’s government and how tax payer’s money is spent.

~ Milton Friedman

April 12, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | 1 | | No Comments Yet

How will you trade?

How will you trade? Fundamental traders base their trades on information external to the market. In other words, thing like; weather, strength of the dollar, cattle-on-feed reports, slaughter count, political events, etc. Technical traders base their trades on information internal to the market. Things like; chart patterns including trendlines, channels, waves, double tops and bottoms, etc. Also considered are stochastics, moving averages and the like. I’m not sure who makes the most money (that has been debated forever), but I think it is difficult to be 100% one or the other now days. There are others who do quite well using Astrology, Numerology, and just plain “gut feel”. In any case… Choose your weapon, the battle is about to begin.

source: irfutures.com

March 21, 2009 Posted by Perdana Wahyu Santosa | Trading | | No Comments Yet